Seminggu pertama tinggal di Wroclaw, Poland adalah waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perbedaan budaya yang ada. Tinggal di negera orang harus bisa segera menyesuaikan dengan budaya setempat. Mengalami Cultural Shock ? Tentu saja. Culture Shock atau biasa disebut juga gagap budaya kerap kali lumrah dirasakan oleh seseorang yang mengunjungi atau tinggal di tempat baru yang memiliki budaya yang berbeda. Apalagi budaya eropa sangat berbeda jauh dengan budaya Indonesia.
Diantaranya kehidupan di Dormitory. Di Barak Wroclaw, toilet dan Shower room perempuan dan laki - laki itu digabung. Hal ini biasanya memang diterapkan di asrama mahasiswa yang ada di eropa dan Amerika pada umumnya. Temenku Vellia merasa sedikit tidak nyaman dengan kondisi itu. Bahkan ia tidak bisa buang air besar selama beberapa hari. Mengapa ? Jadi Vellia sudah terbiasa di Indonesia kalau buang air besar ya di ruang kamar mandi sendiri sedangkan bagian toilet buang air besar diasrama itu hanya dipisahkan oleh sekat namun tidak penuh. sehingga saat kita buang air besar dan terdapat bunyi - bunyi yang kurang sedap didengar akan terdengar ke pengguna toilet sebelah atau bahkan sebelahnya lagi. Buang air besar antara laki - laki dan perempuan mungkin sedikit berbeda. iya gak si ? Laki - laki buang air biasanya pasrah aja.Mau kentut bunyi segede apapun masa bodo. Kalau perempuan biasanya lebih soft dan jaim. hehehehe Setiap Vellia mau pup, selalu aja disebelahnya ada orang lain. sehingga yang tadinya udah duduk di closet, gak jadi pup karena denger bunyi - bunyi dari pengguna sebelah. hehehe Tapi untunglah cuma beberapa hari aja. Finally kita memang harus bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
Masih berkaitan dengan budaya buang air. Pada umumnya toilet di eropa itu toilet kering. Maksudnya mereka tidak menggunakan air untuk membersihkan diri setelah pups. Biasanya mereka menggunakan tissue. Di barak Wroclaw, di toilet tidak menyediakan tissue. bahkan untuk gantungan tissuenya aja gak ada. terus type closet duduknya juga bukan type closet yang ada bagian untuk bilasnya. Untungnya ku pribadi gak punya masalah dengan kondisi itu. Karena sudah terbiasa di tempat kerja menggunakan toilet duduk yang menggunakan tissue untuk bilasnya. Tapi tidak demikian dengan beberapa prajurit lainnya. Mereka tidak terbiasa dengan cara buang air seperti itu. Karena di Indonesia memang pada umumnya ya menggunakan air. Mereka merasa belum bersih jika belum pakai air. Mereka bawa ember yang diisi air dari westafel. Tapi beberapa hari kemudian munculah warning di selembar kertas yang ditempel ditoilet dari administrator asrama. Untuk tidak membawa air ke toilet. mungkin ada keluhan dari penghuni barak wroclaw lainnya karena ada air berceceran atau bagaimana. Hingga akhirnya kita harus bisa menyesuaikan.
Hal lainnya berkaitan dengan waktu. Seperti kita tahu orang Indonesia sangat akrab dengan budaya telat. bener kan ? sering ngalamin kan datang telat ke kampus atau kantor ? dan biasanya orang indonesia udah pada maklum. bahkan misalnya di kampus aja biasanya ada jam toleransi untuk orang yang telat sekitar 15 menitan setelah mata kuliah dimulai. Nah di Polandia dan umumnya di eropa mereka memang sangat menghargai waktu. makanya ada yang mengatakan " time is money " . jadi gak ada tuh budaya terlambat. Kelas mulai jam 11.00 berarti harus sudah ada di kelas sebelum itu karena jam 11.00 kelas beneran dimulai. Nah biasanya ada saja diantara kami yang dateng terlambat. gak cuma kami si tapi temen sekelas dari negara lain juga suka telat. nah kalau datang telat meski 5 menit. si dosen pasti langsung negur.
" Która godzina ? klasa zaczyna się o jedenastej " ( jam berapa sekarang ? kelas dimulai jam 11.00 )
Tapi yang sulit itu berkaitan menjalankan kewajiban sholat 5 waktu. Di Indonesia kita bisa sholat dimana aja. mushola atau masjid bertebaran. di kampus aja biasanya setiap lantai disediakan mushola. tapi disini mayoritas penduduknya adalah kristen. Masjid di Wroclaw hanya ada satu. dan paling menyedihkan karena kita gak boleh sholat di area gedung tempat kita kuliah. meskipun kita gelar sajadah di tempat sepi seperti di belakang tangga. Kepala programnya bahkan sampai kasih attention buat kami supaya gak menjalankan ibadah sholat di kampus. Sedih kan ?
Tapi begitulah realitanya. Disini mereka sangat memisahkan kehidupan professional dengan agama. Kampus adalah tempat belajar, bukan tempat ibadah. begitulah kira - kira.
Memiliki impian untuk study di luar negeri berarti harus siap dengan budaya yang sangat berbeda. bahkan terkadang sangat bertolak belakang dengan nilai - nilai yang kita anut. tapi bagaimanapun itu, kita harus respect dengan budaya setempat. kita harus bisa menyesuaikan. karena dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung - junjung. Belajar di negeri orang akan membuat kita semakin dewasa dan semakin menghargai arti sebuah perbedaan. :)
Diantaranya kehidupan di Dormitory. Di Barak Wroclaw, toilet dan Shower room perempuan dan laki - laki itu digabung. Hal ini biasanya memang diterapkan di asrama mahasiswa yang ada di eropa dan Amerika pada umumnya. Temenku Vellia merasa sedikit tidak nyaman dengan kondisi itu. Bahkan ia tidak bisa buang air besar selama beberapa hari. Mengapa ? Jadi Vellia sudah terbiasa di Indonesia kalau buang air besar ya di ruang kamar mandi sendiri sedangkan bagian toilet buang air besar diasrama itu hanya dipisahkan oleh sekat namun tidak penuh. sehingga saat kita buang air besar dan terdapat bunyi - bunyi yang kurang sedap didengar akan terdengar ke pengguna toilet sebelah atau bahkan sebelahnya lagi. Buang air besar antara laki - laki dan perempuan mungkin sedikit berbeda. iya gak si ? Laki - laki buang air biasanya pasrah aja.Mau kentut bunyi segede apapun masa bodo. Kalau perempuan biasanya lebih soft dan jaim. hehehehe Setiap Vellia mau pup, selalu aja disebelahnya ada orang lain. sehingga yang tadinya udah duduk di closet, gak jadi pup karena denger bunyi - bunyi dari pengguna sebelah. hehehe Tapi untunglah cuma beberapa hari aja. Finally kita memang harus bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
Masih berkaitan dengan budaya buang air. Pada umumnya toilet di eropa itu toilet kering. Maksudnya mereka tidak menggunakan air untuk membersihkan diri setelah pups. Biasanya mereka menggunakan tissue. Di barak Wroclaw, di toilet tidak menyediakan tissue. bahkan untuk gantungan tissuenya aja gak ada. terus type closet duduknya juga bukan type closet yang ada bagian untuk bilasnya. Untungnya ku pribadi gak punya masalah dengan kondisi itu. Karena sudah terbiasa di tempat kerja menggunakan toilet duduk yang menggunakan tissue untuk bilasnya. Tapi tidak demikian dengan beberapa prajurit lainnya. Mereka tidak terbiasa dengan cara buang air seperti itu. Karena di Indonesia memang pada umumnya ya menggunakan air. Mereka merasa belum bersih jika belum pakai air. Mereka bawa ember yang diisi air dari westafel. Tapi beberapa hari kemudian munculah warning di selembar kertas yang ditempel ditoilet dari administrator asrama. Untuk tidak membawa air ke toilet. mungkin ada keluhan dari penghuni barak wroclaw lainnya karena ada air berceceran atau bagaimana. Hingga akhirnya kita harus bisa menyesuaikan.
Hal lainnya berkaitan dengan waktu. Seperti kita tahu orang Indonesia sangat akrab dengan budaya telat. bener kan ? sering ngalamin kan datang telat ke kampus atau kantor ? dan biasanya orang indonesia udah pada maklum. bahkan misalnya di kampus aja biasanya ada jam toleransi untuk orang yang telat sekitar 15 menitan setelah mata kuliah dimulai. Nah di Polandia dan umumnya di eropa mereka memang sangat menghargai waktu. makanya ada yang mengatakan " time is money " . jadi gak ada tuh budaya terlambat. Kelas mulai jam 11.00 berarti harus sudah ada di kelas sebelum itu karena jam 11.00 kelas beneran dimulai. Nah biasanya ada saja diantara kami yang dateng terlambat. gak cuma kami si tapi temen sekelas dari negara lain juga suka telat. nah kalau datang telat meski 5 menit. si dosen pasti langsung negur.
" Która godzina ? klasa zaczyna się o jedenastej " ( jam berapa sekarang ? kelas dimulai jam 11.00 )
Tapi yang sulit itu berkaitan menjalankan kewajiban sholat 5 waktu. Di Indonesia kita bisa sholat dimana aja. mushola atau masjid bertebaran. di kampus aja biasanya setiap lantai disediakan mushola. tapi disini mayoritas penduduknya adalah kristen. Masjid di Wroclaw hanya ada satu. dan paling menyedihkan karena kita gak boleh sholat di area gedung tempat kita kuliah. meskipun kita gelar sajadah di tempat sepi seperti di belakang tangga. Kepala programnya bahkan sampai kasih attention buat kami supaya gak menjalankan ibadah sholat di kampus. Sedih kan ?
Tapi begitulah realitanya. Disini mereka sangat memisahkan kehidupan professional dengan agama. Kampus adalah tempat belajar, bukan tempat ibadah. begitulah kira - kira.
Memiliki impian untuk study di luar negeri berarti harus siap dengan budaya yang sangat berbeda. bahkan terkadang sangat bertolak belakang dengan nilai - nilai yang kita anut. tapi bagaimanapun itu, kita harus respect dengan budaya setempat. kita harus bisa menyesuaikan. karena dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung - junjung. Belajar di negeri orang akan membuat kita semakin dewasa dan semakin menghargai arti sebuah perbedaan. :)



20.59
Muhamad Andrian










