24 Januari 2016

Culture Shock

Seminggu pertama tinggal di Wroclaw, Poland adalah waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perbedaan budaya yang ada. Tinggal di negera orang harus bisa segera menyesuaikan dengan budaya setempat. Mengalami Cultural Shock ? Tentu saja. Culture Shock atau biasa disebut juga gagap budaya kerap kali lumrah dirasakan oleh seseorang yang mengunjungi atau tinggal di tempat baru yang memiliki budaya yang berbeda. Apalagi budaya eropa sangat berbeda jauh dengan budaya Indonesia.

Diantaranya kehidupan di Dormitory. Di Barak Wroclaw, toilet dan Shower room perempuan dan laki - laki itu digabung. Hal ini biasanya memang diterapkan di asrama mahasiswa yang ada di eropa dan Amerika pada umumnya. Temenku Vellia merasa sedikit tidak nyaman dengan kondisi itu. Bahkan ia tidak bisa buang air besar selama beberapa hari. Mengapa ? Jadi Vellia sudah terbiasa di Indonesia kalau buang air besar ya di ruang kamar mandi sendiri sedangkan bagian toilet buang air besar diasrama itu hanya dipisahkan oleh sekat namun tidak penuh. sehingga saat kita buang air besar dan terdapat bunyi - bunyi yang kurang sedap didengar akan terdengar ke pengguna toilet sebelah atau bahkan sebelahnya lagi. Buang air besar antara laki - laki dan perempuan mungkin sedikit berbeda. iya gak si ? Laki - laki buang air biasanya pasrah aja.Mau kentut bunyi segede apapun masa bodo. Kalau perempuan biasanya lebih soft dan jaim. hehehehe Setiap Vellia mau pup, selalu aja disebelahnya ada orang lain. sehingga yang tadinya udah duduk di closet, gak jadi pup karena denger bunyi - bunyi dari pengguna sebelah. hehehe Tapi untunglah cuma beberapa hari aja. Finally kita memang harus bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Masih berkaitan dengan budaya buang air. Pada umumnya toilet di eropa itu toilet kering. Maksudnya mereka tidak menggunakan air untuk membersihkan diri setelah pups. Biasanya mereka menggunakan tissue. Di barak Wroclaw, di toilet tidak menyediakan tissue. bahkan untuk gantungan tissuenya aja gak ada. terus type closet duduknya juga bukan type closet yang ada bagian untuk bilasnya. Untungnya ku pribadi gak punya masalah dengan kondisi itu. Karena sudah terbiasa di tempat kerja menggunakan toilet duduk yang menggunakan tissue untuk bilasnya. Tapi tidak demikian dengan beberapa prajurit lainnya. Mereka tidak terbiasa dengan cara buang air seperti itu. Karena di Indonesia memang pada umumnya ya menggunakan air. Mereka merasa belum bersih jika belum pakai air. Mereka bawa ember yang diisi air dari westafel. Tapi beberapa hari kemudian munculah warning di selembar kertas yang ditempel ditoilet dari administrator asrama. Untuk tidak membawa air ke toilet. mungkin ada keluhan dari penghuni barak wroclaw lainnya karena ada air berceceran atau bagaimana. Hingga akhirnya kita harus bisa menyesuaikan.

Hal lainnya berkaitan dengan waktu. Seperti kita tahu orang Indonesia sangat akrab dengan budaya telat. bener kan ? sering ngalamin kan datang telat ke kampus atau kantor ? dan biasanya orang indonesia udah pada maklum. bahkan misalnya di kampus aja biasanya ada jam toleransi untuk orang yang telat sekitar 15 menitan setelah mata kuliah dimulai. Nah di Polandia dan umumnya di eropa mereka memang sangat menghargai waktu. makanya ada yang mengatakan " time is money " . jadi gak ada tuh budaya terlambat. Kelas mulai jam 11.00 berarti harus sudah ada di kelas sebelum itu karena jam 11.00 kelas beneran dimulai. Nah biasanya ada saja diantara kami yang dateng terlambat. gak cuma kami si tapi temen sekelas dari negara lain juga suka telat. nah kalau datang telat meski 5 menit. si dosen pasti langsung negur.
" Która godzina ? klasa zaczyna się o jedenastej " ( jam berapa sekarang ? kelas dimulai jam 11.00 )

Tapi yang sulit itu berkaitan menjalankan kewajiban sholat 5 waktu. Di Indonesia kita bisa sholat dimana aja. mushola atau masjid bertebaran. di kampus aja biasanya setiap lantai disediakan mushola. tapi disini mayoritas penduduknya adalah kristen. Masjid di Wroclaw hanya ada satu. dan paling menyedihkan karena kita gak boleh sholat di area gedung tempat kita kuliah. meskipun kita gelar sajadah di tempat sepi seperti di belakang tangga. Kepala programnya bahkan sampai kasih attention buat kami supaya gak menjalankan ibadah sholat di kampus. Sedih kan ?
Tapi begitulah realitanya. Disini mereka sangat memisahkan kehidupan professional dengan agama. Kampus adalah tempat belajar, bukan tempat ibadah. begitulah kira - kira.

Memiliki impian untuk study di luar negeri berarti harus siap dengan budaya yang sangat berbeda. bahkan terkadang sangat bertolak belakang dengan nilai - nilai yang kita anut. tapi bagaimanapun itu, kita harus respect dengan budaya setempat. kita harus bisa menyesuaikan. karena dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung - junjung. Belajar di negeri orang akan membuat kita semakin dewasa dan semakin menghargai arti sebuah perbedaan. :)






15 Januari 2016

Ketika bahasa jadi Kendala

Masa - masa awal tinggal di Wroclaw memiliki kenangan tersendiri. terutama karena terkendala oleh bahasa untuk berkomunikasi. Orang - orang di wroclaw lebih mengerti bahasa German dibandingkan bahasa Inggris. Karena memang Wroclaw pernah menjadi bagian dari German sebelum masa perang dunia II berakhir. Sedangkan bahasa yang mereka gunakan sehari - hari adalah bahasa Polandia, yang katanya merupakan bahasa paling tersulit di dunia menurut beberapa sumber. Sedangkan aku sendiri sama sekali tidak mengerti bahasa Polandia dan bahasa German waktu itu sehingga lumayan bikin pusing untuk berkomunikasi.
Berasa banget kesusahan karena terkendala bahasa waktu mau ke dormitory dari terminal bus, Aku bersama temen - temen pertama kali menginjakan kaki di Polandia itu di Chopin Airport yang terletak di Warsaw, ibu kota Polandia. Dari Warsaw ke Wroclaw kami menggunakan bus yang kurang lebih butuh waktu 5 jam perjalanan. Selama di Warsaw hingga kepengurusan bus ke Wroclaw semuanya berjalan lancar. Karena memang ada Mba Silvy dan Kang Fajar yang membantu. Mereka adalah warga Indonesia yang sedang bekerja dan lanjut studi di Warsaw, Polandia. Meski belum kenal atau bertemu sebelumnya, mereka sangat baik membantu kami dan memberikan berbagai informasi untuk kedatangan kami. Itulah hebatnya orang Indonesia di luar negeri. Meski bukan keluarga, teman apalagi cuma kenalan. Tapi klo udah di luar negeri dan bakal tinggal di negara yang sama ikatan kekeluargaannya super pokoknya.
Saat menunggu Bus 

Nah kebingungan mulai melanda saat ku bersama Fikri, Indera dan Aab tiba di terminal bus di Wroclaw. Dengan muka lecek dan membawa koper yang super berat, bingung bagaimana caranya ke dormitory.   Karena memang tidak tahu lokasinya jauh atau dekat. Mau buka Google maps, kami lost koneksi internet karena memang masih menggunakan simcard Indonesia. Bermodalkan alamat yang diiinformasikan di email,, kami mencoba bertanya pada  petugas dimana lokasi dormitory tersebut dan bagaimana kami kesana. Namun mereka tidak mengerti bahasa Inggris, mereka malah menjelaskan pakai bahasa Polandia yang sama sekali tidak kami mengerti. Kamipun mencoba bertanya kebeberapa orang lainnya. namun sama saja. kami terkendala oleh bahasa untuk berkomunikasi. Setelah hampir 30 menit berlalu. Akhirnya kami putuskan coba menggunakan taxi saja. Namun ternyata untuk mendapatkan taxipun tidak mudah. Banyak taxi kosong lewat tapi tidak ada yang mau berhenti. Ada yang berhenti namun saat mendengar kami berbicara menggunakan bahasa Inggris, Sopir taxinya malah kebingungan dan lalu kabur. hehehe
Setelah mencoba mencari taxi di lokasi yang sama tidak membuahkan hasil. kamipun mencoba move on  kesisi lain dari terminal. Kamipun harus dorong - dorng koper dengan badan yang sangat lemes dan ngantuk setelah perjalanan kurang lebih 19 jam pesawat + transit ditambah 5 jam perjalanan bis. Di lokasi yang lebih strategis tersebutpun kami coba berusaha memberhentikan taxi kembali. 15 menit berlalu namun belum juga mendapatkan taxi.
Sampai akhirnya ku melihat seorang gadis sedang menunggu tak jauh dari kami. Sejauh yang Aku lihat saat tiba di Polandia, Perempuannya cantik - cantik bro. langsing dan dengan khas rambut blondenya. Aku pun mencoba menghampirinya, Bukan untuk berkenalan lalu meminta nomor telepon atau nama akun facebooknya tapi mau coba minta tolong agar bisa ke dormitory. Siapa tahu doi bisa bahasa Inggris. Dan benar saja, Gadis yang bernama Anna tersebut ternyata bisa bahasa Inggris. Seneng banget rasanya akhirnya bisa menemukan warga lokal yang bisa berbahasa Inggris. Akupun menceritakan kesulitan yang ku dan temen - temen hadapi. Sayapun menunjukan alamat yang kutuju. Dan dengan ramah dia menjelaskan tentang lokasi dormitory kami. Ternyata letaknya tidak jauh. Hanya 10 - 15 menit dengan menggunakan taxi. Lalu diapun mencari handphonenya di dalam tas untuk mengorderkan taxi untuk kami. Setelah menelepon jasa taxi. Diapun memberikanku secarik kertas yang berisi nomor taxi yang akan menjemput kami. dan dia memberitahuku untuk sabar menunggu karena taxinya baru akan tiba 10 menit. Aku hanya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Diapun membalas tersenyum lalu kemudian pergi.
Kesan pertamaku kepada orang Polandia yang tinggal di Wroclaw adalah mereka itu baik - baik. Meski mereka pada cuek tapi kalau kita meminta tolong atau bertanya, pasti mereka mau membantu. Hanya memang kendalanya adalah kita menggunakan bahasa yang berbeda. Jadi sulit untuk memahaminya.
10 menit kemudian Taxi yang diorderkan oleh Anna pun datang. didalam taxy ku hanya menunjukan secarik kertas yang bertuliskan alamat dormitory kepada sang sopir. kemudian ia menjelaskan sesuatu yang aku tak mengerti, aku hanya menjawabnya dengan mengucapkan " tak " yang berarti iya. Kata pertama dalam bahasa Polandia yang aku ingat. Kamipun diantarkan hingga pintu utama dormitory dengan hanya membayar 17.55 zl ( Rp.60.000). Harga yang relatif murah untuk ukuran taxy di eropa.
Bill Taxi
Sampai di Dormitory, kami bertemu dengan administratornya. Mengisi berbagai data dan menunjukan beberapa dokumen. Prosesnya lumayan lama karena lagi - lagi bahasalah yang menjadi kendala namun semuanya akhirnya selesai. kamipun diberikan kunci kamar lalu pergi menuju kamar kami supaya bisa segera rebahan di kasur yang sudah tersedia.
Suasana Kamar Barak Wroclaw. photo credit : Heru 
Kendala bahasa juga kualami saat hendak membeli simcard dan isi pulsa ke fresh market, salah satu toko waralaba populer di Polandia yang menyediakan berbagai kebutuhan. Aku bertanya pada kasirnya dengan menggunakan bahasa inggris, tapi sayangnya sang kasir tidak mengerti bahasa Inggris.ku coba berkali - kali tapi tetap saja si kasir gak ngerti. akupun mencoba mengeluarkan jurus bahasa nonverbal. kukeluarkan handphone sambil nunjuk - nunjuk handphone sambil mengatakan " sim card " beberapa kali. dan akhirnya si kasirpun mengerti. Rasanya itu ketika si kasir ngerti berasa baru dapet pacar baru. seneng bukan main. Kemudian setelah simcard terpasang. akupun bermaksud mengisi saldo pulsa. Tapi kali ini gak berhasil. si kasir gak paham - paham bahwa yang ku maksud itu ngisi pulsa. Dengan tampang menyerah, ku pun keluar toko dan gak jadi isi pulsa. hehehe

Jadi buat temen - temen yang mau lanjut study di negara yang bukan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa nasionalnya. Sedangkan temen - temen menguasainya bahasa Inggris, coba pelajari beberapa kosakata atau percakapan dasar sebelum keberangkatan. Karena hal itu akan memudahkan temen - temen saat pertama kali tiba di negara tersebut.

Nah gak cuma kendala bahasa yang membuat masa - masa awal tinggal di Wroclaw memiliki kenangan tersendiri, tetapi juga karena kami sedikit mengalami gagap budaya. Budaya di Polandia dan Indonesia tentu berbeda. termasuk kebiasaan buang air dan sharing kamar mandi antara laki - laki dan perempuan.mau tahu kisahnya seperti apa ? tunggu postingan selanjutnya ya :) *Bersambung

10 Januari 2016

Barak Wroclaw dan Kedelapan prajuritnya

Wroclaw, di kota inilah ku akan tinggal selama satu tahun. Wroclaw merupakan ibu kota prov-insi Dolnoslaskie yang terletak di Polandia Barat dan merupakan kota terbesar keempat di   Polandia . Wroclaw memiliki sejarah yang panjang. Kota ini pernah menjadi bagian dari Kera-jaan Polandia, Bohemia, Hungaria, Kekaisaran Austria, Prusia, dan Jerman. Dan kembali menj-adi bagian wilayah Polandia pada tahun 1945 sebagai salah satu dampak dari perubahan perba-tasan setelah perang dunia II . Kota ini sangat cantik, bersih dan memiliki moda transport-asi yang sangat terintegrasi.  
Kenalin Nama ku Muhamad Andrian. biasa dipanggil Andrian. Disini ku kuliah di Wroclaw Univ-ersity of Technology untuk belajar bahasa Polandia sebelum memulai study master program di tahun 2016. Ini adalah pengalaman pertamaku studi di luar negeri. Disini ku gak sendiri .  Kutinggal bersama 7 pelajar asal Indonesia lainnya yang sama – sama merupakan awardee      Ignacy Łukasiewicz Scholarship program yaitu Heru, Aab, Vellia, Rajiansyah, Akbar, Fikri   dan Indera. Selama setahun kedepan, ku akan sharing mengenai banyak hal mengenai kota      Wroclaw dan suka duka ku bersama teman - teman sebagai mahasiswa di Polandia termasuk mempelajari bahasa paling tersulit di Dunia.

*Bersambung*

26 Desember 2015

Menggapai impian itu Perlu Pengorbanan

" Andrian, gimana caranya supaya bisa dapet beasiswa untuk studi ke luar negeri ? Aku ingin juga dong bisa lanjut kuliah di luar seperti kamu"

Begitulah pertanyaan yang sering sekali kuterima dari teman - teman melalui bbm, line, facebook maupun email setelah hampir tiga bulan tinggal di Polandia untuk melanjutkan studi melalui program beasiswa dari pemerintah Polandia . Melalui tulisan ini ku mau coba sharing pengalaman pribadiku untuk menggapai impian studi abroad.
Menggapai impian untuk studi keluar negeri melalui beasiswa itu gak instan, butuh proses. Banyak hal yang perlu kita persiapkan. Aku sendiri, Impian untuk studi ke luar negeri sudah muncul sejak semester awal kuliah S1. Namun waktu itu masih belum yakin dengan impianku tersebut karena dirasa impiannya terlalu tinggi. Namun setelah browsing dan baca - baca artikel di internet mengenai kisah para pemuda Indonesia yang sudah berhasil mewujudkan mimpinya studi ke luar negeri melalui program beasiswa, Ku jadi yakin bahwa impian studi ke luar negeri pasti bisa kucapai karena buktinya sudah banyak pemuda Indonesia dengan berbagai macam latar belakang mampu untuk mewujudkannya. membaca kisah - kisah para penerima beasiswa memperkuat keyakinan diri yang tadinya berpikir "impossible" menjadi "possible". Selain itu, dengan semakin banyak membaca kisah para penerima beasiswa tersebut, selain mendapatkan banyak inspirasi, kita juga memperoleh banyak tips dan trik dalam berburu beasiswa. Beberapa website yang rutin ku kunjungi motivasi beasiswa , Indonesia Mengglobal ,  Website Mas Budi Waluyo . 

Masuk semester 5 ku mulai serius untuk mewujudkan impianku tersebut. Ku mulai mengumpulkan berbagai informasi mengenai beasiswa ke luar negeri. Kufokus mengumpulkan berbagai informasi secara mandiri terlebih dahulu dengan mengandalkan internet. Yups menurutku penting banget buat para pemburu beasiswa sebelum bertanya kepada orang lain atau orang yang pernah menerima beasiswa tersebut untuk menggali informasi secara mandiri dulu di internet. Jika ada yang tidak mengerti baru kita coba tanya dan konsultasi pada orang lain. Karena sebenernya informasi mengenai beasiswa bertebaran di internet. kita cukup buka google dan ketik keyword terkait beasiswa yang kita cari. ada banyak sekali beasiswa yang ditawarkan baik dari sebuah lembaga internasional, pemerintah negara lain dan dari pemerintah Indonesia sendiri. beberapa beasiswa yang populer seperti LPDP, FULBRIGHT, AAS, CHEVENING, KGSP, TURKIYE BURSLARI sudah ada website resminya  Dan informasi di website resmi beasiswanya keterangannya sudah sangat lengkap mulai dari persyaratan, siapa yang berhak melamar, proses seleksi, deadline beasiswa dan lain sebagainya. Dan terkadang ku juga menghadiri pameran - pameran pendidikan yang biasanya rutin diadakan seperti EHEF  ( European Higher Education Fair ) dll. Intinya jadi pemburu beasiswa itu JANGAN MALES BUAT GALI INFORMASI. 

Setelah tahu berbagai informasi terkait beasiswa tersebut, coba persiapkan berbagai persyaratan yang diminta secara bertahap. Persyaratan tiap beasiswa tentu berbeda - beda. Tapi biasanya persyaratan beasiswa secara general  yaitu :
- Form beasiswa
- Paspor
- Ijazah S1
- Transkrip Nilai
- Sertifikat kemampuan bahasa inggris
- Motivation Letter
- Study Plan
- Bahan tesis bagi yang mau melanjutkan S2
- Surat keterangan sehat

Semua dokumen tersebut sebaiknya sudah dibuat dalam bahasa Inggris. Jadi yang Ijazah dan transkripnya nanti masih pakai bahasa Indonesia bisa diterjemahkan dulu di pusat bahasa yang ada di kampus atau ke penerjemah tersumpah. Yang belum punya paspor segera buat. Paspor itu hal yang wajib kita punya kalau kita mau pergi ke luar negeri. Biaya pembuatannya juga tidak terlalu mahal , berlaku selama 5 tahun dan prosesnya gampang apalagi sekarang buat paspor sudah bisa secara online. 

Dan yang merasa bahasa inggrisnya masih lemah, terus semangat untuk improve kemampuan bahasa inggrisnya. Kalau ada waktu untuk kursus secara intensif pas masa kuliah, alangkah lebih baiknya kursus. Waktu itu ku pribadi gak bisa kursus secara intensif pas masa kuliah karena harus kuliah kerja dan juga sibuk di organisasi. Jadi belajar hanya secara otodidak.

Setelah wisuda S1 December 2014, Sempat dihadapi kegalauan apakah tetap terus bekerja atau fokus mengejar impian studi ke luar negeri. Sebuah pilihan sulit, namun pada akhirnya kuputuskan keluar dari pekerjaan dan lebih memilih mengejar impian studi keluar negeri. Bagiku impian untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri itu sebuah impian besar. Maka perlu  keyakinan yang besar dan  fokus untuk mengejarnya. Gak bisa setengah - setengah. Mungkin bisa, tapi waktu yang diperlukan lebih lama. Kemudian ku merantau ke Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur untuk meningkatkan skill bahasa inggris dengan ikut program kursus secara intensif beberapa bulan. Disana ku semakin semangat untuk mengejar impian, karena disana ku dipertemukan dengan orang - orang yang juga memiliki impian yang sama.  Sambil meningkatkan kemampuan bahasa inggris , tidak lupa juga sambil apply program scholarship yang buka.

Sebelum mendapatkan beasiswa Ignacy Łukasiewicz ke Polandia, ku sempat apply dua program beasiswa yaitu program beasiswa KGSP ke Korea dan Turkiye Buslary ke Turki. Masih ingat betul betapa ribetnya ngurus berkas untuk apply kedua beasiswa tersebut. Bahkan sampai dua kali kena penyakit Tipes karena kecapean karena sempat harus bulak - balik Tangerang - Kediri untuk mengurus berkas dan Interview beasiswa.  namun ternyata gagal. Aku hanya lolos sampai tahap wawancara. Kegagalannya pun terjadi secara beruntun. Sempat sampai mau down dan putus asa. Namun  untunglah orang tua dan keluarga selalu kasih support dan doa. Hingga pada akhirnya dua bulan kemudian kabar baik datang. Ku dinyatakan sebagai salah satu awardee beasiswa Ignacy dari Pemerintah Polandia. dan harus sudah berada di Polandia, Eropa Tengah pada bulan September 2015.

Kalau dihitung sejak mulai mengumpulkan berbagai informasi beasiswa, butuh waktu 2 tahun bagiku untuk bisa mewujudkan impian untuk bisa studi ke luar negeri. Bukan waktu yang sebentar. Banyak pengorbanan yang telah kulakukan untuk bisa merealisasikan mimpiku tersebut. Meninggalkan pekerjaan dan lebih memilih menjadi penggangguran untuk bisa mengejar impian, butuh uang yang tak sedikit untuk bisa mempersiapkan segalanya. Tapi kini semua itu terasa tidak ada apa - apanya saat impian itu menjadi kenyataan.

Dan beberapa hal penting yang tidak boleh kita lupakan saat berburu beasiswa yaitu tetap rajin beribadah dan berdoa kepada sang pencipta, Sodakah dan minta doa kepada orangtua. Karena menurutku pribadi sebesar apapun usaha yang kau lakukan jika orang tua dan sang pencipta tidak meridhai. semuanya tidak akan terjadi :)




08 November 2015

Salah satu keputusan besar dalam hidup

" Hidup itu pilihan, kalau memang merasa yakin dengan pilihanmu untuk mengejar impianmu, maka fokuslah untuk merealisasikannya "
Begitulah nasehat dari salah satu temanku. Setelah gelar sarjana resmi kusandang Desember 2014 lalu, diriku dihadapi sebuah dilema yang besar apakah tetap melanjutkan karir yang sudah kubangun atau melepaskannya untuk mengejar salah satu impian terbesarku yaitu melanjutkan studi ke luar negeri. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya kuputuskan untuk fokus mengejar mimpiku. 

Selanjutnya ku memilih pergi ke Kediri,Jawa Timur, melepas pekerjan, jauh dari orang tua serta sahabat untuk meningkatkan skill bahasa inggris, memantaskan diri untuk bisa memenuhi persyaratan mengikuti seleksi beasiswa ke luar negeri. Meski terasa berat, karena dengan bekal seadanya namun dengan niat dan tekad yang kuat ku yakin bisa melewati semuanya. Ku percaya impian studi ke luar negeri memanglah sebuah impian besar, maka diperlukan sebuah pengorbanan. Namun ku yakin, pengorbanan yang kulakukan ini kelak akan terbayar lunas saat mimpiku terealisasi. 

22 Januari 2015, tepat pukul 12.30, Bada dzuhur ku pamit kepada kedua orang tuaku untuk berangkat ke tanah rantau. Tampak dari raut muka keduanya berat melepaskanku. Namun kedua orang tuaku tahu bahwa anaknya memiliki cita - cita yang harus ia capai sehingga yang bisa mereka lakukan hanyalah restu dan doa. Satu pesan yang selalu mereka ingatkan kepadaku. 

"Dimanapun kamu berada, Jika memiliki impian dan cita- cita jangan pernah lupa untuk menjalankan pokok perintah agama. Karena ikhtiar harus dimbangin dengan tawakal kepada sang pencipta" 

Rintik - rintik hujan yang tak kunjung reda sejak pagi hari, menemani langkahku meninggalkan rumah. Perjalanan panjang siap kulalui. Aku yakin, impianku untuk melanjutkan pendidikan master diluar negeri akan kucapai. Ku percaya, tak ada impian yang terlalu besar, selama ada usaha besar yang kita lakukan untuk mengapainya.Dan sudah banyak pemuda Indonesia yang membuktikanya. Dan hari ini adalah jalur yang kutempuh untuk menjadi pribadi yang pantas dan menjadi salah satu pemuda yang bisa mendapatkan kesempatan itu. 

Pukul 15.45 ku tiba di stasiun senen, awalnya ku akan menggunakan kereta berantas untuk menuju kediri, namun setelah antri di loket tiket ternyata tiket sudah habis. Yang tersisa untuk tujuan kediri hanyalah kereta majapahit dengan harga yang paling mahal yaitu Rp.340.000. Harga tiket kereta termahal yang pernah kugunakan. Namun karena tidak ada pilihan lain, kuharus merogoh uang dua kali lipat dari yang kuanggarkan. Kereta Jakarta Tujuan kediri berangkat tepat pukuk 17.20 dan tiba pukul 04.29 di kediri. Untungnya saya memperoleh tempat duduk sendiri dari yang biasanya digunakan untuk empat orang. Jadi perjalanan kereta kali ini , tidak hanya kereta termahal tapi juga tenyaman dan terberuntung yang pernah kujalani. Sepanjang perjalanan, alunan musik coldplay kuputar dan menghantarkanku tidur

Awal Sebuah Perjalanan Menuju Eropa


28 September 2015 merupakan hari bersejarah dalam hidupku. Karena hari itu merupakan awal dari sebuah perjalanan panjang yang akan kulalui untuk merealisasikan salah satu mimpi terbesar dalam hidupku yaitu melanjutkan studi pascasarjana di Eropa. Setelah proses yang cukup panjang, 2 kali mengalami kegagalan dalam proses pencarian beasiswa, akhirnya ku mendapatkan beasiswa untuk studi abroad di benua biru tepatnya negara Polandia, Eropa Tengah. Ku terpilih menjadi salah satu Awardee dari Ignacy Lukasiewicz Scholarship Program dari pemerintah Polandia. informasi lebih lanjut tentang beasiswa ini akan dibahas di postingan selanjutnya.
Tepat pukul 13.30 WIB, Ba'da dzuhur ku meninggalkan rumah menuju Soekarno Hatta International Airport. butuh waktu 1 jam perjalanan dari rumahku menuju Bandara terbesar di Indonesia itu. Hari itu, kudiantar oleh Ayahku yang biasa kupanggil " Babeh " , Kakak pertama dan 3 keponakanku. tidak ada sosok ' mamah ' mengantarkanku ke bandara karena kebetulan mamah masih di Mekkah untuk menunaikan Ibadah haji. Meski begitu, tak lupa ku meneleponnya sebelum berangkat. Satu pesan penting yang selalu ia sampaikan kepadaku yaitu Dimanapun kuberada, jangan pernah lupa untuk menjalankan pokok perintah agama. 14.30 Akhirnya kutiba juga di Bandara. Sebelum menuju tempat check-in, tak lupa mengabadikan foto bersama dan pamit pada kakak dan tentunya Babeh. Sosok ayah yang sangat kucintai dan inspirator terbesar dalam hidupku.Tampak dari raut mukanya tercermin kesedihan dan berat untuk melepas kepergian anak bontotnya. Saat memelukku banyak pesan yang ia sampaikan. Sungguh waktu itu sejujurnya ingin rasanya meneteskan air mata, Namun ku mencoba untuk menahannya dan tetap tegar. Aku tak ingin menunjukan kesedihan di depan keluargaku. Aku tak ingin membuat mereka justru berat melepaskan kepergianku untuk melanjutkan studi di luar negeri.
Penerbangan pertamaku ke eropa ini tak kulakukan sendiri. Ku kan berangkat bersama 8 orang lainnya yang merupakan awardee dari program beasiswa yang sama yang sudah janjian sebelumnya untuk bertemu di Bandara. Ku akan terbang ke Polandia dari Bandara International Soekarno hatta, Jakarta menuju Bandara Frédéric Chopin, Warsawa, Polandia. Namun harus transit satu kali di Doha International Airport, Qatar. Dan maskapai yang akan kugunakan adalah Qatar Airways. Waktu perjalanan kurang lebih 18 jam, termasuk waktu menunggu transit untuk pindah ke penerbangan selanjutnya. Karena penerbangan jauh memerlukan waktu lama, ku melakukan check-in online sebelumnya agar bisa memilih tempat duduk di Windows Seat. Ku lebih senang duduk di windows seat saat naik pesawat karena ku bisa melihat pemandangan luar dari pesawat dan juga bisa tidur menyandar ke dinding pesawat tanpa terganggu oleh orang lain karena ku tidak menghalangi jalan penumpang lain yang hendak pergi ke toilet. Namun saat di counter Check-in, kami melakukan check-in secara group. Karena jika check-in secara group kita tak perlu kwatir kelebihan bagasi jika koper yang kita bawa melebihi batas maksimal yaitu 30 kg / org. Namun karena Check in group, seat kamipun dirubah kembali dan pada akhirnya akupun tidak jadi duduk windows seat pada perjalanan kali ini.
Pukul 16.55 pesawat yang ku tumpangipun meninggalkan landasan bandara soekarno hatta. Penerbangan dari Jakarta, Indonesia ke Doha,Qatar memakan waktu 8 jam. Berada di dalam penerbangan yang panjang merupakan waktu yang cukup membosankan. Namun Penerbanganku kali ini berbeda dari penerbangan yang pernah kulakukan sebelumnya. Penerbangan kali ini servis - penuh. Nah biasanya penerbangan servis penuh ini menyediakan in-flight entertainment jadi ku bisa mengisi waktu di pesawat sambil menonton film, mian games ataupun mendengarkan musik. Dan selama penerbangan, gak bakal kelaperan maupun kehausan. Kita bisa minta kapanpun kita mau. Makanan dan minuman yang disajikan pun beragam. Minuman yang ditawarkan bermacam - macam, ada jus apel, mangga, jeruk, air mineral bahkan minuman beralkohol. Waktu penerbanganpun jadi tidak berasa dan tiba juga di doha. Karena waktu transit lumayan cukup lama. Ku bersama teman - teman sempat berfoto dulu di boneka besar yang merupakan icon Doha International Airport. dan tak lupa mencari mushola serta toilet
Setelah lumayan lama menunggu, kami pun check-in untuk penerbangan selanjutnya. Pukul 01.40 waktu Doha, pesawatpun take off meninggalkan bandara Doha. Dari Doha, Qatar menuju Warsaw, Polandia memerlukan waktu 5 jam . Kumemilih untuk tidur pada penerbangan kali ini karena penerbangan dilakukan di malam hari dan terasa sangat ngantuk. Finally, Jam 7 pagi waktu warsawa kami landing di Chopin International Airport. Dan di Bandara kami dijemput oleh Mas Fajar yang merupakan pengurus PPI Polandia dan juga Mba Sylvi , warganegara Indonesia yang bekerja di Polandia sekaligus seperti Ibu peri untuk para pelajar Indonesia di Polandia. hehehe Merekalah yang membantu kami untuk menuju kota kami masing - masing. Karena penerima beasiswa ini akan menjalani kursus intensif bahasa polandia di kota yang berbeda yaitu Krakow, lodz dan wroclaw.
Alhamdulillah finally impian untuk melanjutkan study ke luar negeri dan bisa menginjakan kaki di benua eropa kini menjadi kenyataan. Jangan pernah takut untuk bermimpi, karena ku sendiri sudah merasakan betapa besar kekuatan sebuah impian. Impian memberikan motivasi yang besar untuk terus berusaha, terus belajar dan jangan lupa berdoa dan meminta pada yang maha kuasa. Tidak ada impian yang besar selama diiringi dengan usaha yang besar pula. Memang diperlukan pengorbanan waktu, tenaga, uang, perasaan dan masa depan. Namun percayalah semua pengorbanan yang kau lakukan akan terbayar lunas saat impiannmu untuk melanjutkan studi ke luar negeri menjadi nyata. Selamat berjuang !!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops